Dari Kesra ke FORKABI, Jejak Pengabdian Ustadz Ali Akbar Memasuki Babak Baru

Peristiwa 15 Sep 2026 07:08 4 min read 11 views By A. Jasmine
Dari Kesra ke FORKABI, Jejak Pengabdian Ustadz Ali Akbar Memasuki Babak Baru
Merawat Persaudaraan, Membesarkan Potensi Anak Betawi

Dari Kesra ke FORKABI, Jejak Pengabdian Ustadz Ali Akbar Memasuki Babak Baru

 

TANGERANG SELATAN — Bertambah lagi amanah yang disandang Ir. H. Ali Akbar, S.T., M.M. Sejak tadi malam, namanya menghiasi sejumlah media lokal hingga nasional. Grup-grup WhatsApp pun ramai oleh ucapan selamat. Di antara mereka yang turut menyambut kabar tersebut adalah Gus Isqowi, sahabat yang selama ini membersamai Ali Akbar dalam berbagai organisasi, sekaligus menjadi teman berbagi gagasan, berdiskusi dan bertukar pandangan dalam banyak hal. Kedekatan keduanya tidak hanya tumbuh dari perjalanan panjang dalam dunia dakwah dan organisasi, tetapi juga memiliki irisan yang kuat dengan masyarakat Betawi. Gus Isqowi menikah dengan perempuan Betawi yang telah lama ditetapkan sebagai guru besar dan baru beberapa bulan lalu resmi dikukuhkan. Karena itu, kabar terpilihnya Ustadz Ali Akbar sebagai Ketua FORKABI Tangsel tentu memiliki makna tersendiri bagi Gus Isqowi — bukan sekadar kabar tentang seorang sahabat yang menerima amanah baru, tetapi juga sebuah kabar baik yang datang dari lingkungan yang selama ini dekat dengan perjalanan hidupnya.

Kabar tersebut datang setelah Ustadz Ali Akbar belum lama ini dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Tangerang Selatan. Belum lama menjalankan tanggung jawab itu, kini amanah lain kembali dipercayakan kepadanya. Dalam Musyawarah Daerah (Musda) VI DPD Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI) Kota Tangerang Selatan yang digelar Sabtu (12/9/2026), Ustadz Ali Akbar terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD FORKABI Tangsel periode 2026–2031, menggantikan Mulyadi Arten yang telah meninggal dunia.

Bagi sebagian orang, bertambahnya jabatan mungkin berarti bertambahnya kedudukan. Tetapi bagi Ustadz Ali Akbar, deretan amanah itu justru seperti semakin panjangnya jalan pengabdian. Jauh sebelum memimpin FORKABI, ia telah aktif di berbagai ruang pelayanan umat dan masyarakat, mulai dari DMI, LPTQ, RUMAH DAI, GPS Tangsel, IPIM, IPQ, LD-PCNU, FORMULA, ICMI hingga kepengurusan masjid dan gerakan Magrib Mengaji. Dunia birokrasi, dakwah, keagamaan dan sosial kemasyarakatan seolah bertemu dalam satu perjalanan yang sama: memberikan manfaat.

Musda VI FORKABI sendiri berlangsung tertib dan penuh semangat persaudaraan. Wakil Ketua Umum DPP FORKABI Pak Purna Kustaman (Pupung) dan Wasekjen DPP FORKABI Pak Nurdin hadir mewakili jajaran DPP, sementara Wakil Wali Kota Tangerang Selatan H. Pilar Saga Ichsan turut memberikan sambutan. DPP berharap kepengurusan baru mampu memperkuat konsolidasi sekaligus membawa FORKABI semakin dekat dengan masyarakat. 

Ustadz Ali Akbar menyambut kepercayaan tersebut dengan pesan yang sederhana namun tegas: persatuan harus menjadi titik awal setelah Musda. Ia menegaskan bahwa terpilihnya dirinya bukan kemenangan pribadi, melainkan amanah bersama. Karena itu, seluruh perbedaan yang mungkin muncul selama proses Musda harus ditinggalkan dan diganti dengan semangat bergandengan tangan membesarkan organisasi.

Lebih dari sekadar menguatkan struktur, Ustadz Ali ingin FORKABI menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat Betawi Tangsel. Ia melihat banyak warga Betawi memiliki kemampuan di bidang pendidikan, agama, budaya maupun ekonomi yang belum seluruhnya mendapatkan ruang untuk berkembang. Karena itu, ia mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak dan perangkat daerah agar potensi tersebut dapat menjadi kekuatan nyata. 

"FORKABI jangan cuma bisa gerayak-geroyok. Kalau memang punya potensi, nanti kita kembangkan dengan OPD-OPD yang ada di Tangsel,” ungkapnya. Ia juga berharap orang Betawi tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri. Identitas Betawi, menurutnya, harus tetap hidup seiring dengan kemajuan Tangerang Selatan sebagai kota yang modern dan religius. “

" Orang Betawi jangan cuma jago di wilayah sendiri, tapi juga bisa membaguskan nama Kota Tangsel yang sudah hebat, cerdas, modern dan religius,” ujarnya.

Di tengah kota yang terus berubah, Ustadz Ali Akbar ingin budaya Betawi tidak sekadar dikenang, tetapi ikut mengambil peran dalam masa depan. Menjaga akar bukan berarti menolak perubahan. Justru dari akar yang kuat, sebuah komunitas dapat tumbuh lebih tinggi dan memberi teduh bagi sekitarnya.

Dalam waktu dekat, ia akan menyusun rapat kerja untuk merancang program FORKABI lima tahun ke depan. Pelantikan pengurus masih menunggu selesainya rangkaian Musda di sejumlah wilayah Jabodetabek. Setelah itu, pekerjaan besar akan dimulai: merangkul seluruh elemen, memperkuat organisasi dan menghadirkan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Mungkin itulah cara terbaik membaca perjalanan Ustadz Ali Akbar hari ini. Ia bukan sedang mengumpulkan jabatan, melainkan sedang menerima satu demi satu ruang untuk mengabdi. Dari birokrasi hingga masjid, dari dakwah hingga organisasi kemasyarakatan, dan kini di rumah besar anak Betawi bernama FORKABI.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan berganti dan kursi akan berpindah. Yang lebih lama tinggal adalah jejak kebaikan yang ditinggalkan seseorang setelah ia selesai memegang amanah. Dan bagi Ustadz Ali Akbar, perjalanan itu tampaknya baru saja membuka babak baru.

Chat with us on WhatsApp